Supporting Collaborative Inquiry During A Biology Field Trip With Mobile Peer-to-peertools For Learning A Case Study With K-12 Learners.

Supporting collaborative inquiry during a biology field trip with mobile peer-to-peer tools for learning: A case study with K-12 learners Jari Laru*, Sanna Järvelä Department of Educational Sciences and Teacher Education, University of Oulu, Oulu, Finland Roy B. Clariana School of Graduate Professional Studies, Penn State University, USA *Mr. Jari Laru (M.Ed) Learning and Educational Technology Research Unit (LET) Department of Educational Sciences and Teacher Education P.O. Box 2000 FIN-90014 University of Oulu Email: jari.laru@oulu.fi Fax: +358-8-553 3744 (Submitted January 23, 2009; Accepted March 8, 2010) This study explores how collaborative inquiry learning can be supported with multiple scaffolding agents in a real-life field trip context. In practice, a mobile peer-to-peer messaging tool provided meta-cognitive and procedural support, and tutors and a nature guide provided more dynamic scaffolding in order to support argumentative discussions between groups of students during the co-creation of knowledge claims. The aim of the analysis was to identify and compare top- and low-performing dyads/triads in order to reveal the differences regarding their co-construction of arguments while creating knowledge claims. Although the results revealed several shortcomings in the types of argumentation, it could be established that differences between the top performers and low performers were statistically significant in terms of social modes of argumentation, the use of warrants in the mobile tool and in overall participation. In general, the use of the mobile tool likely promoted important interaction during inquiry learning, but led to superficial epistemological quality in the knowledge claim messages. Keywords: collaborative learning; mobile learning; inquiry learning; argumentation; scaffolding Supporting Collaborative Inquiry During A Biology Field Trip With Mobile Peer-to-peertools For Learning A Case Study With K-12 Learners...

Please ENROL FOR FREE or LOGIN to The Website to View The Entire Essay or Term Paper.
LOGIN ENROL FOR FREE
Read More

Supporting Collaborative Inquiry During A Biology Field Trip With Mobile Peer-to-peertools For Learning A Case Study With K-12 Learners 1.

Supporting collaborative inquiry during a biology field trip with mobile peer-to-peer tools for learning: A case study with K-12 learners Jari Laru*, Sanna Järvelä Department of Educational Sciences and Teacher Education, University of Oulu, Oulu, Finland Roy B. Clariana School of Graduate Professional Studies, Penn State University, USA *Mr. Jari Laru (M.Ed) Learning and Educational Technology Research Unit (LET) Department of Educational Sciences and Teacher Education P.O. Box 2000 FIN-90014 University of Oulu Email: jari.laru@oulu.fi Fax: +358-8-553 3744 (Submitted January 23, 2009; Accepted March 8, 2010) This study explores how collaborative inquiry learning can be supported with multiple scaffolding agents in a real-life field trip context. In practice, a mobile peer-to-peer messaging tool provided meta-cognitive and procedural support, and tutors and a nature guide provided more dynamic scaffolding in order to support argumentative discussions between groups of students during the co-creation of knowledge claims. The aim of the analysis was to identify and compare top- and low-performing dyads/triads in order to reveal the differences regarding their co-construction of arguments while creating knowledge claims. Although the results revealed several shortcomings in the types of argumentation, it could be established that differences between the top performers and low performers were statistically significant in terms of social modes of argumentation, the use of warrants in the mobile tool and in overall participation. In general, the use of the mobile tool likely promoted important interaction during inquiry learning, but led to superficial epistemological quality in the knowledge claim messages. Keywords: collaborative learning; mobile learning; inquiry learning; argumentation; scaffolding Supporting Collaborative Inquiry During A Biology Field Trip With Mobile Peer-to-peertools For Learning A Case Study With K-12 Learners 1...

Please ENROL FOR FREE or LOGIN to The Website to View The Entire Essay or Term Paper.
LOGIN ENROL FOR FREE
Read More

Sindrom Nefrotik (sn) Adalah Sekumpulan Manifestasi Klinis Yang Ditandai Oleh Proteinuria Masif .

BAB I PENDAHULUAN Sindrom nefrotik (SN) adalah sekumpulan manifestasi klinis yang ditandai oleh proteinuria masif (lebih dari 3,5 g/1,73 m2 luas permukaan tubuh per hari), hipoalbuminemia (kurang dari 3 g/dl), edema, hiperlipidemia, lipiduria dan hiperkoagulabilitas. Berdasarkan etiologinya, SN dapat dibagi menjadi SN primer (idiopatik) yang berhubungan dengan kelainan primer glomerulus dengan sebab tidak diketahui dan SN sekunder yang disebabkan oleh penyakit tertentu.1 Saat ini gangguan imunitas yang diperantarai oleh sel T diduga menjadi penyebab SN. Hal ini didukung oleh bukti adanya peningkatan konsentrasi neopterin serum dan rasio neopterin/kreatinin urin serta peningkatan aktivasi sel T dalam darah perifer pasien SN yang mencerminkan kelainan imunitas yang diperantarai sel T . Kelainan histopatologi pada SN primer meliputi nefropati lesi minimal,nefropati membranosa, glomerulo-sklerosis fokal segmental, glomerulonefritis membrano-proliferatif.2 Penyebab SN sekunder sangat banyak, di antaranya penyakit infeksi, keganasan, obat-obatan, penyakit multisistem dan jaringan ikat, reaksi alergi, penyakit metabolik, penyakit herediter-familial, toksin, transplantasi ginjal, trombosis vena renalis, stenosis arteri renalis, obesitas massif. Di klinik (75%-80%) kasus SN merupakan SN primer (idiopatik).2 Pada orang dewasa, penyebab paling umum adalah nefropati diabetik (suatu komplikasi penyakit diabetes) dan nefropati membran. Namun demikian, penyebab sindrom nefrotik seringkali tidak diketahui. Kondisi ini juga dapat terjadi sebagai akibat infeksi (seperti radang tenggorokan, hepatitis, atau mononucleosis), penggunaan obat-obatan tertentu, kanker, gangguan genetik, gangguan kekebalan tubuh, atau penyakit yang mempengaruhi beberapa sistem tubuh termasuk diabetes, lupus eritematosus sistemik, beberapa myeloma, dan amiloidosis. Hal ini dapat menyertai kelainan ginjal seperti glomerulonefritis, glomerulosclerosis fokus dan segmental, dan glomerulonefritis mesangiocapillary.2 Tingginya angka kejadian diabetes melitus pada orang dewasa terutama diabetes melitus yang tidak terkontrol sering menyebabkan komplikasi pada pasien. Salah satu dari komplikasi diabetes melitus yang tidak terkontrol adalah nefropati diabetika, yang merupakan salah satu penyebab terjadinya sindrom nefrotik. Banyaknya kasus diabetes melitus yang tidak terkontrol membuat penulis tertarik untuk mengambil tema sindrom nefrotik yang merupakan salah...

Please ENROL FOR FREE or LOGIN to The Website to View The Entire Essay or Term Paper.
LOGIN ENROL FOR FREE
Read More

Riwayat Penyakit Sekarang 9.

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA FAKULTAS KEDOKTERAN KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH RS. PUSAT ANGKATAN UDARA Dr. ESNAWAN ANTARIKSA ————————————————————————————————————- STATUS Identitas pasien Nama : An. Arsa Umur : 7 bulan Alamat : Jl. Raya Ceger RT 004 RW 05, Jakarta Status : – Pekerjaan : – Jenis kelamin : laki-laki Agama : Islam Dirawat : 4 November 2012 Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis pada tanggal 27 October 2012 pada pukul 15.00 Keluhan utama Pasien mengalami kejang dan demam Riwayat penyakit sekarang Pasien mengalami kejang dan demam akibat pernah mengalami kecelakaan lalu lintas 2 bulan SMRS dan kepala pasien mengalami benturan. Pasien langsung dirujuk ke RSCM dan akhirnya disarankan untuk konsultasi dengan dokter bedah saraf RSAU. Riwayat penyakit dahulu Riwayat trauma kepala (+), riwayat alergi obat (-), alergi makanan (-), riwayat asma(-), riwayat keracunan (-), penyakit jantung bawaan(-), keganasan (-). Riwayat penyakit keluarga Riwayat keganasan dalam keluarga disangkal, penyakit menular disangkal, riwayat DM (-), HT (-). Riwayat kebiasaan – Anamnesis Tinjauan menurut Sistem Umum : Pasien tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis Kulit : Tidak ada perubahan warna kulit Kepala : Normocephali, distribusi rambut merata, tidak mudah rontok Mata : Konjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/-, reflex pupil (+) Leher : KBG dan tiroid TTM Thorax : Paru : suara nafas vesikuler, ronki -/-, wheezing -/- Jantung: S1 – S2 normal, regular, murmur (-), Gallop (-) GI Tract : Mual (-), muntah (-) Abdomen : Supel, datar, BU (+) N, NT (-) Sal. Kemih : Tidak ada gangguan berkemih Extremitas : Akral hangat, oedem (-) PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum : Tampak sakit sedang Kesadaran : Compos mentis Tekanan darah : 136/100 mmHg Nadi : 104x/menit, regular, equal, cukup Suhu : 36 o C Pernapasan : 24x/menit, regular, teratur Berat badan : 8 kg STATUS GENERALIS Kepala : Normocephali, deformitas (-) Rambut : Distribusi...

Please ENROL FOR FREE or LOGIN to The Website to View The Entire Essay or Term Paper.
LOGIN ENROL FOR FREE
Read More

Riwayat Penyakit Sekarang .

PENYAKIT KRONIK IDENTITAS PASIEN: Nama : Ws Umur : 69 tahun. Alamat : Suradita Agama : Islam Suku : Betawi Kebangsaan : WNI Jenis kelamin : perempuan Pekerjaan : ibu rumah tangga Status sosial : menikah Anamesis. Keluhan Utama : Luka lama pada jari kaki kanan yang tidak sembuh sejak 20 hari Keluhan tambahan : Badan terasa lemah, sering kesemutan, banyak minum, dan banyak kencing Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang melalui poliklinik penyakit dengan keluhan terdapat luka pada jempol kaki kanan yang tidak sembuh dan kelamaan semakin membesar dan berwarna kemerahan. Pasien mengaku jari kaki tersebut sebelumnya tersandung kayu sejak 20 hari ini, luka tersebut tampak kering tidak mengeluarkan darah hanya tampak kemerahan dan terasa nyut–nyutan dan panas, pada luka tersebut terdapat nanah sejak 12 hari ini dan menjadi kehitaman, rasa nyeri pada luka berkurang bila luka dikompres dengan rivanol, dan rasa sakit semakin bertambah bila dibawa berjalan, pasien juga mengatakan jari kaki tersebut menjadi bengkak sejak 2 minggu ini, jari kaki tersebut terasa berat untuk digerakkan dan dibawa untuk aktivitas. Pasien juga mengeluh badannya terasa lemah sejak 1,5 bulan ini, rasa lemah muncul bila pasien banyak pikiran dan terlalu banyak aktivitas, rasa lemah berkurang bila dibawa istirahat. Pasien juga mengeluh sering kesemutan terutama pada kaki diwaktu malam sejak 2 minggu ini, kesemutan muncul tiba-tiba pada saat pasien tidur, kesemutan berkurang bila kaki dipijat. Pasien juga mengatakan  sering minum sejak 1 bulan ini, pasien mudah haus, rasa haus tidak terpengaruh oleh udara yang panas atau beban kerja yang berat, pasien juga mengatakan  banyak mengeluarkan air kencing sejak 1 bulan ini, banyaknya air seni yang keluar ± 2/3 gayung, warna air seni kuning muda dan jernih, urin tidak berbau, dan bila malam hari pasien mengaku kencing lebih dari 3 kali dan mengganggu tidurnya pasien. Pasien diketahui mengidap DM sejak 20 tahun yang lalu, terakhir minum obat 1...

Please ENROL FOR FREE or LOGIN to The Website to View The Entire Essay or Term Paper.
LOGIN ENROL FOR FREE
Read More